SIWAK (BRUSHING TEETH)

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan, tak terkecuali kebersihan gigi. Oleh sebab itu, dalam ajaran Nabi Muhammad SAW. seorang Muslim dianjurkan untuk bersiwak yang berguna untuk membersihkan mulut dan gigi.

SIWAK

Apa siwak itu? Menurut bahasa Arab siwak berarti menggosok atau alat yang digunakan untuk itu menggosok/membersihkan mulut dan gigi. Nabi SAW. sangat menganjurkan umatnya untuk bersiwak dalam setiap waktu terutamanya pada waktu sholat.

Pada masa sekarang ini banyak kita temukan cairan pembersih mulut seperti listerin, sanorin atau cooling tapi itu tidak cukup dalam membersihkan mulut sekalipun pembersih itu dapat membersihkan gigi dan menghilangkan bau mulut. Untuk mendapatkan kesunnahan dalam menggunakan siwak ialah tidak harus hilang bau mulut akan tetapi lebih utamanya bau mulut harus sampai hilang.

Keutamaan dalam Bersiwak:

Zaman sekarang ini tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui keutamaan bersiwak, mereka hanya mengira siwak hanyalah sebatas amalan sunnah. Faidah tentang keutamaan bersiwak diantaranya yaitu:

  1. Menambah kecerdasan
  2. Menghambat rabun senja
  3. Mengurangi uban
  4. Melipat gandakan pahala
  5. Meringankan orang yang sakaratul maut
  6. Dapat mengingatkan pada kalimat Syahadat ketika ajal akan menjemput.
Santri Dayah Al Fathani pada saat menggunakan Siwak

Kemudian mekanisme atau cara yang paling utama dalam menggunakan siwak yaitu:

  1. Siwak dipegang dengan tangan kanan
  2. Kemudian letakkan di atas ibu jari dan jari kelingking, sedangkan untuk tiga jari yang lain berada di atas siwak
  3. Bersiwak dimulai dari arah kanan mulut
  4. Kemudian gunakan siwak pelan-pelan pada bagian gigi, baik gigi sisi atas maupun bawah dan gigi bagian luar maupun dalam
  5. Kemudian arahkan siwak ke mulut bagian kiri

Dalil tentang sunnah bersiwak:

قَالُوا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُعَوِّدَ الصَّبِيَّ السِّوَاكَ لِيَأْلُفَهُ كَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ

Artinya: “Para ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk melatih kebiasaan anak kecil untuk bersiwak supaya anak terbiasa melakukannya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Dar al-Fikr], juz 1, hal. 283)

 إذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً ذَاتَ تَسْلِيمَاتٍ كَالتَّرَاوِيحِ وَالضُّحَى وَأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ سُنَّةَ الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ وَالتَّهَجُّدَ وَنَحْوَ ذَلِكَ اُسْتُحِبَّ أَنْ يَسْتَاكَ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَمَرْتهمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ أَوْ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ كَمَا سَبَقَ

Artinya: “Jika ada orang yang ingin melakukan shalat yang mempunyai banyak salam seperti shalat tarawih, dhuha, shalat empat rakaat sunnah dzuhur dan ashar, tahajjud, dan lain sebagainya, maka disunnahkan bersiwak setiap kali dua rakaat karena berdasar sabda Rasulullah ﷺ ‘niscaya akan aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak pada setiap kali shalat.’ Hadits tersebut shahih,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, hal. 283)

ويسن ان يجعل الخنصر من اسفله والبنصر والوسطى والسبابة فوقه والإبهام اسفل رأسه ثم يضعه بعد ان يستاك خلف أذنه اليسرى لخبر فيه

Artinya: “Disunnahkan menjadikan jari kelingking berada di bawah batang siwak, sedangkan jari manis, tengah dan telunjuk di atasnya dan jempol di bagian atas kepala siwak. Setelah bersiwak, kayu siwak diletakkan di belakang telinga bagian kiri. Hal ini berdasarkan hadits Baginda Nabi Muhammad ﷺ,” (Ibrahim Al-Bayjuri, Hasyiyah Syekh Ibrahim Al-Bayjuri, [Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut], juz 1, hal. 84)

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Artinya: “Jika tidak memberatkan bagi umatku, maka aku akan menyuruh mereka untuk bersiwak setiap shalat” (HR Abu Dawud). AS

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *